Thursday, January 22, 2015

Pengawetan Bahan Makanan

Produksi bahan makanan yang melimpah namun daya konsumsinya yang tidak sebanding mengakibatkan bahan-bahan makanan ada yang tidak mampu dikonsumsi pada saat itu juga. Terkadang hal ini dapat menimbulkan masalah, salah satunya adalah pembusukan makanan yang akhirnya membuat makanan menjadi rusak. Ketika makanan sudah rusak, maka otomatis makanan tersebut sudah tidak dapat dikonsumsi lagi.

Untuk dapat membuat bahan-bahan makanan tersebut dapat bertahan dalam waktu yang lama, maka bahan-bahan makanan itu harus diawetkan. Karena dengan melakukan pengawetan, maka bahan makanan tersebut bisa bertahan dalam waktu yang lebih lama daripada yang seharusnya. Hal ini sebenarnya juga menguntungkan. Mengapa? Karena dengan makanan dapat disimpan dalam waktu lama, maka akan mampu mengurangi resiko kerugian yang dapat ditanggung karena bahan makanan tersebut rusak sebelum akhirnya laku atau digunakan. Selain itu, dengan makanan yang tidak cepat rusak, maka makanan tersebut masih dapat dikonsumsi ketika menghadapi situasi darurat, misalnya seperti bencana alam atau perang. Dengan bahan makanan yang tahan lama, ini akan lebih memudahkan bagi pengusaha untuk mengirim bahan makanan yang diproduksinya ke tempat yang jauh tanpa harus khawatir bahan makanannya rusak sebelum sampai di tempat tujuan.

Proses yang digunakan dalam mengawetkan makanan antara satu dengan yang lainnya tidaklah selalu sama, karena karakteristik dari masing-masing bahan makanan yang berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya. Untuk apa saja jenis-jenisnya, anda bisa melihat di bawah ini.

Pemanasan

Cara ini digunakan untuk mematikan mikroba-mikroba dengan cara menaikan suhu dari makanan tersebut, namun cara ini tidak dianjurkan untuk bahan makanan yang memiliki kadar protein dan vitamin yang tinggi, karena dengan melakukan proses pemanasan, maka protein dan vitamin yang ada di dalam makanan tersebut juga akan rusak.

Pendinginan

Laju perkembangan mikroba yang ada di bahan makanan dapat diperlambat dengan mendinginkan bahan makanan tersebut, ketika perkembangan mikroba dalam bahan makan tersebut diperlambat, maka akan menambah masa makanan tersebut dapat dikonsumsi. Biasanya produk susu merupakan produk yang sering menggunakan proses ini dalam pengawetannya.

Pembekuan

Ini sebenarnya hampir sama dengan pendinginan, namun dalam proses pembekuan ini, bahan makanan suhunya diturunkan sampai di bawah titik beku air. Biasanya produk yang dibekukan adalah produk seperti daging.

Pengeringan

Dengan adanya kadar air yang tinggi dalam suatu bahan makanan, maka bahan makanan itu tentu juga akan mudah busuk. Untuk itu perlu dilakukan proses pengeringan untuk mengurangi kadar air yang ada di dalam bahan makanan tersebut. Biasanya bahan makanan itu dikeringkan dengan cara dijemur di bawah sinar matahari.

Pengasinan

Proses pengasinan ini biasanya dilakukan dengan menambahkan garam pada bahan makanan. Dengan ditambahkannya garam pada bahan makanan, maka kadar air yang ada di dalam bahan makanan tersebut dapat dikurangi. Biasanya pengawetan dengan cara seperti ini dilakukan pada ikan.

Pengasapan

Proses pengasapan ini sebenarnya gabungan antara proses pengeringan dan pengasinan. Karena pada bahan makanan yang akan diawetkan harus dijemur dan diasinkan terlebih dahulu, kemudian setelah itu baru dilakukan proses pengasapan. Biasanya ini juga dilakukan pada ikan.

Radiasi

Dengan menggunakan radiasi, maka sel-sel mikroba yang ada di dalam bahan makanan tersebut dapat dikendalikan, karena radiasi ternyata mampu menghambat perkembangan dari mikroba. Selain itu, dengan menggunakan radiasi, maka sel tunas yang ada di dalam bahan makanan tersebut juga tidak akan tumbuh. Biasanya ini dilakukan pada kentang dan bawang.

Pengawet kimia

Dengan memberikan pengawet kimia pada makanan, maka akan membuat daya tahan dalam makanan tersebut menjadi lebih lama. Ini biasanya dilakukan pada bahan makanan dalam kemasan.


EmoticonEmoticon